Rabu, 11 November 2015

BAB 1 PENDAHULUAN ETIKA SEBAGAI TINJAUAN (ETIKA PROFESI AKUNTANSI)

Nama          : Fachmi Putri R. 
NPM/Kelas : 22212592 / 4EB23

BAB 1
PENDAHULUAN SEBAGAI ETIKA TINJAUAN

·         PENGERTIAN ETIKA
Ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti, karakter, watak, kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
Pengertian Etika Menurut Beberapa Ahli :
1.      Menurut Hamzah Yacub, Pengertian Etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dan memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
2.      Pengertian Etika menurut Dr. James J. Spillane SJ, Etics atau etika memperhatikan atau mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral. Etika mengarah atau menghubungkan penggunaan akal budi individual dengan objektivitas untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dan tingkah laku seseorang terhadap orang lain.
3.      Menurut Asmaran, Pengertian Etika adalah studi mengenai tingkah laku manusia, tidak hanya menentukan kebenaran-kebenarannya sebagaimana adanya, tetapi juga menyelidiki manfaat atau kebaikan dari seluruh tingkah laku manusia.
4.      WJS. Poerwadarminta mengemukakan Pengertian Etika, Etika adalah ilmu pengetahuan mengenai asas-asas akhlak (moral).
5.      Pengertian Etika menurut Soergarda Poerbakawatja, Etika ialah filsafat mengenai nilai, kesusilaan, tentang baik dan buruk, kecuali etika mempelajari nilai-nilai, ia juga merupakan pengetahuan mengenai nilai-nilai itu sendiri.


·         PRINSIP-PRINSIP ETIKA
Dalam peradaban sejarah manusia sejak abad keempat sebelum Masehi para pemikir telah mencoba menjabarkan berbagai corak landasan etika sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Para pemikir itu telah mengidentifikasi sedikitnya terdapat ratusan macam ide agung (great ideas). Seluruh gagasan atau ide agung tersebut dapat diringkas menjadi enam prinsip yang merupakan landasan penting etika, yaitu keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran.
1.      Prinsip Keindahan
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Berdasarkan prinsip ini, manusia memperhatikan nilai-nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya. Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya sehingga membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja.
2.      Prinsip Persamaan
Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan terhadap persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam berbagai bidang lainnya. Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskrminatif atas dasar apapun.
3.      Prinsip Kebaikan
Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti hormat- menghormati, kasih sayang, membantu orang lain, dan sebagainya. Manusia pada hakikatnya selalu ingin berbuat baik, karena dengan berbuat baik dia akan dapat diterima oleh lingkungannya. Penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sesungguhnya bertujuan untuk menciptakan kebaikan bagi masyarakat.

4.      Prinsip Keadilan
kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya mereka peroleh. Oleh karena itu, prinsip ini mendasari seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang menjadi hak orang lain.
5.      Prinsip Kebebasan
sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai dengan pilihannya sendiri. Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia, setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain. Oleh karena itu, setiap kebebasan harus diikuti dengan tanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang semena-mena kepada orang lain. Untuk itu kebebasan individu disini diartikan sebagai:
·         kemampuan untuk berbuat sesuatu atau menentukan pilihan.
·         kemampuan yang memungkinkan manusia untuk melaksana-kan pilihannya tersebut.
·         kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

6.      Prinsip Kebenaran
Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat. Tidak setiap kebenaran dapat diterima sebagai suatu kebenaran apabila belum dapat dibuktikan.

Semua prinsip yang telah diuraikan itu merupakan prasyarat dasar dalam pengembangan nilai-nilai etika atau kode etik dalam hubungan antarindividu, individu dengan masyarakat, dengan pemerintah, dan sebagainya. Etika yang disusun sebagai aturan hukum yang akan mengatur kehidupan manusia, masyarakat, organisasi, instansi pemerintah, dan pegawai harus benar-benar dapat menjamin terciptanya keindahan, persamaan, kebaikan, keadilan, kebebasan, dan kebenaran bagi setiap orang.


·         BASIS TEORI ETIKA

A.    Teori Deontologi
Deontologi berasal dari bahasa Yunani, deon yang berarti kewajiban. Yaitu kewajiban manusia untuk selalu bertindak baik. Suatu tindakan dikatakan baik dan bermoral karena tindakan tersebut dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang harus dilaksanakan bukan pada tujuan atau akibat dari tindakan tersebut.

B.     Teori teleologi
Teleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu telos. Menurut teori ini kualitas etis suatu perbuatan atau tindakan diperoleh dengan dicapainya tujuan dari perbuatan itu sendiri. Ada dua macam aliran dalam teori teleologi ini yaitu: utilitarisme dan egoisme, pengertiannya dibahas berikutnya.
C.     Teori hak
Teori Hak merupakan suatu aspek  dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.
D.    Teori Keutamaan (Virtue)
Adalah memandang  sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Contoh keutamaan : kebijaksanaan, keadilan, suka bekerja keras, dan hidup yang baik.
·         EGOISM
Menurut Rachels (2004: 146) artinya teori mengenai bagaimana kita seharusnya bertindak, tanpa memandang bagaimana kita biasanya bertindak. Menurut teori ini hanya ada satu prinsip perilaku yang utama, yakni prinsip kepentingan diri, dan prinsip ini merangkum semua tugas dan kewajiban alami seseorang.
Kata egoisme merupakan istilah yang berasal dari bahasa Latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno yang masih digunakan dalam bahasa Yunani modern yang berarti diri atau saya, dan kata isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya.
Egoisme adalah cara untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, dan umumnya memiliki pendapat untuk meningkatkan citra pribadi seseorang dan pentingnya intelektual, fisik, sosial dan lainnya. Egoisme ini tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak pada umumnya dan hanya memikirkan diri sendiri.
Inti pandangan dari Egoisme yaitu tindakan dari setiap orang pada dasarnya adalah untuk mengejar kepentingan pirbadi dan memajukan dirinya sendiri. Aristoteles berpenapat bahwa tujuan hidup dan tindakan setiap manusia adalah untuk mengejar kebahagiannya. Egoisme dianggap bermoral dan etis karena kebahagiaan dan kepentingan pribadi dalam bentuk hidup, hak, dan keamanan secara moral dianggap baik dan pantas untuk diupayakan dan dipertahankan.

·         Contoh Kasus Etika Sebagai Tinjauan
Jalani Hukuman Dari Guru. Benturkan Kepala ke Meja 800 Kali, Siswa SMA Koma.

Senin, 21 September 2015-22:14 WIB.
Melson Aleut (17) siswa SMA Negeri 2 Kefamemanu, Timor Tengah Utara, (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) koma usai menjalani hukuman dari gurunya di sekolah Sabtu pekan lalu. (Sindonews).
KEFAMENANU - Melson Aleut (17) siswa SMA Negeri 2 Kefamemanu, Timor Tengah Utara, (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) koma usai menjalani hukuman dari gurunya di sekolah Sabtu pekan lalu.
Hukuman itu diterimanya bersama 23 rekan siswa kelas III IPS lainnya dengan cara membenturkan kepala di meja berkali-kali hanya karena tidak menyelesaikan tugas mata pelajaran Bahasa Jerman.


“Iya betul karena saya takut pukul sehingga saya beri hukuman seperti itu. Tapi sebenarnya mereka yang memilih jenis hukuman ketuk (benturkan) kepala di meja. Saya juga tidak tahu kalau dia sakit di kepala,” ungkap Yakobus Nahak, Guru SMA 2 saat menjenguk siswa di RSUD Kefamemanu, Seni (21/9/2015).
Akibat kejadian itu, pihak keluarga tidak terima dengan hukuman yang diberikan oleh guru tersebut. Lexi Tule orangtua Melson menilai hukuman seperti itu sangat berat sebab anaknya memiliki riwayat sakit di kepala sehingga tidak boleh terkena benturan keras.
“Sebelumnya kita dapat informasi dari sesama teman sekolahnya kalau dua pekan sebelumnya pada mata pelajaran yang sama mereka disuruh ketuk kepala (benturkan) di meja 80 kali, Sabtu kemarin juga hukuman yang sama tapi naik menjadi 800 kali,” ungkap Lexi Tule, dengan nada kesal.
Pihak keluarga berencana membawa kasus ini ke polisi agar guru yang bersangkutan bisa dimintai keterangan terkait perbuatannya sehingga kasus yang sama tidak terjadi lagi pada siswa lainnya.

      Opini Kasus:
Etika menurut filsafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Oleh karena itu, sejatinya etika dapat digunakan sebagai tinjauan atau aturan yang berlaku dimata umum, sehingga dapat membedakan perbuatan yang baik atau yang buruk. Ketika kita tidak dapat membedakan perbuatan yang baik atau buruk, maka kita tidak mempunyai moral untuk berpikir atas akal yang telah diberikan Tuhan kepada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Seperti contoh kasus diatas, ketika seorang oknum guru yang memberikan hukuman yang sangat berat kepada murid-muridnya. Oknum guru tersebut telah menyalahi aturan dalam beretika belajar-mengajar. Tidak mencerminkan perilaku etikanya sebagai guru yang tugasnya mengajar muridnya, bukan justru menghajar muridnya dengan kekerasan. Sesuai dengan salah satu prinsip etika, prinsip keindahan dan prinsip  kebaikan. Seharusnya sebagai seorang pendidik yang baik dapat mencerminkan perilaku yang indah, saling menghormati dan menghargai, saling mengasihi, dan menunjukan perilaku yang selalu baik bagi lingkungannya. Ketika etika dapat digunakan sebagai tinjauan atau pedoman, maka kasus diatas seharusnya tidak pernah terjadi. Banyak cara untuk mendidik siswa/siswi tanpa harus melakukan tindak kekerasan. Bisa lewat menasehati, memberikan sanksi yang memberikan manfaat (membersihkan lingkungan sekolah, memberikan tugas/PR tambahan), dan cara-cara yang lebih manusiwi lainnya. Semoga kasus diatas dapat menohok dunia dan pelaku pendidikan, agar kedepannya dapat berbenah menanamkan moral dan etika beperilaku yang baik. Tidak hanya untuk murid atau siswanya, melainkan semua perangkat sekolah.

Referensi :
http://ikkyfadillah.tumblr.com/post/100283697454/pendahuluan-etika-sebagai-tinjauan
https://ikamaullydiana.wordpress.com/2013/12/09/etika-profesi-akuntansi-2/
http://soniahosey05.blogspot.co.id/2015/10/tugas-1-etika-sebagai-tinjauan.html

Sabtu, 04 Juli 2015

Learning English



Fachmi Putri R
3EB23 / 22212592

Learning English

       My name is Fachmi and I’d like to tell you how I learned English on my own. Here, in

Indonesia we have English teaching since high school, where only basic grammar is taught.

Most of the time there is conversation practice.


       I was amazed at the language, often spoken in the great films, wonderfull songs ... then,

decided to start studying when i was 21 years old. There was I between teenagers, learning

the basic grammar, the same which I had learned when I was still in the high school a long

time ago..


    There wasn’t any chance to keep studying... But, I didn’t give up on the will of learning the

language...and started studying on my own, by the words of songs, exploring all the websites,

searching for grammar teaching. 
 
 
    At one point I knew some of the grammar ... maybe enough to have a conversation without

having to interrupt the chat to look for a translation. But... That wasn’t enough once I had to 

learn how to speak. I started joining chatrooms, very shy... but could hear and recognize some

words. Then...my friends online started phoning me. They encouraged me a lot to keep

practicing, but I was still shy to speak...afraid of being funny at speaking.


    The next step was repeating words of songs...singing with no fears. Learning how to move

the tongue to get the similar pronunciation. It helped me a lot, once after that time I could

understand some of the music words. I used to buy crosswords magazine...translating some

jokes to my friends, increasing my vocabulary day after day. It was funny to translete some

words, daring to make essays about my life. My vocabulary was getting bigger and I wasn’t

noticing that. I used to play games with words.. and kept trying.


   I used to test my English skills on websites, and those tests helped me a lot...Then. . World

English is the most complete site of teaching English. Today, I have no problem at speaking,

writting or reading English books. As in my own language I may look for a different word to

know its meaning in the dictionary.


  Despite I am always looking for grammar teaching, most people are amazed when I speak in

English. All we need to learn something is to lose the fears of trying. Everybody can learn. It

takes some time but it is worthy of the work. Good luck!

Eat Junkfood



Fachmi Putri R
3EB23 / 22212592

Theme : Eat Junkfood
Teen Diet Isn’t All Jun Food

( Source : Washington Post Staff Writter : Tuesday, October 31, 2006 )
        A walk through the food court of any mall confirms the worst reports aboit teens’ eating
habits: Kids share overflowing cartons of french fries, bite into cheeseburger and dripping
slices of pizza, and quench their thirst with jumbo cups of soda.

   Stop and talk to teenagers, though, and many say that they eat junk mainly when they’re out
of their parents’ eyesight, especially when they’re hanging out with friends. They have
learned what it means to eat healthfully, they say, even though they often don’t choose to do
so.

Take 17-year-old Porscha Hall, a senior at Ballou Senior High School in the District, who
says that she usuallay skips breakfast and has chips, cookies, candy and soda – bought from
school vendding machine – for lunch. She often goes to a carryout restaurant after school for
french fries, fried rice and egg rolls. Dinner at home tends to be much healthier, she says,
including baked chicken and rice.

Hall says she kows her mom would prefer that she eat healthier melas.But,she says,“ I don’t
have time to eat healthy,” because she attends school during the day and takes classes at
night. She predicts that one day, probably when she’s done with collage, her food choices
may matter more to her.

Hall admits that junk food is often the quickest way to satisfy her hunger when she’s on the
go – and that’s common among busy teenagers, says Felicity Northcott, an anthropologist
who does nutrition research at Johns Hopkins University. “ I’m not sure that teenagers don’t
eat healthyfully because they don’t want to – particularly teens who are in school, where
there is a lot of junk food arround, “ she says. “ They just eat whatever is there.”
The tension–between knowing what is bad for you and continuing to do it anyway – is a key
challenge for health professionals. About one-thrid of American children and adolescents are
obese or at risk for obesity, accourding to report released in September by the Institute of
Medicine; and the obesity rate has more than tripled for thoose ages 12 to 19 in the past three
decades, increasing from 5 percent to 17 percent.

   The effects of food choice on weight and, later, chronic disease are also well documented,
A 2005 study in the journal Pediatrics found that children ages 9 to 14 who ate more fried
food away from home tended to be heavier. Findings published in 2004in Obesity Reserach
showed that, among children ages 9 to 14, drinking sugared beverages may contribute to
weight gain.

 Kids who talk about eating healthyfully often say their good habits were estabilshed at home.
Sajni Patel, a 10th-grander at Thoms S. Wooton High School in Rockville, says she’s a big
fresh-fruit eater—which is unusual, she admints, for a 15-year old.

  “ I love citrus fruit, apples, nectarines, mango,” Patel explain. “ I will come home around 3
and have a salad [and] vegetables” – choices she attributes to her parent’s mealtime routines.
Rachida Ross, 16, a junior at Thurgood Marshall Academy Public Charter High School in the
District, admits she enjoys chips, cakes, candy and hot sausages – burt her mom’srule of
eating a salad with every meal sticks.

   “ I’m not a big fried-food eater,”Ross says. And her mom typically keeps fresh fruits in the
house. But there are also not-so-good-for-you foods. So what would Ross pick given a choice
between junk food and fresh fruit? “I’ll probably go more for the chips and stuff, “Ross
admints. “I try to do what my mom does with vegetables and stuff. I know it’s good for me.
Sometimes I have a choice not to eat a salad, but I’ll take it anyway.

As teens prepare to leave home, their parents’ influnce declines, but it does not dissapear.
Michael Kellogg, an 18-year-old high school senior from Woodstock, Ga., generally makes
his own food selections, he says. But his parents’ rules and routines still affect his food
choices.

“I guess 40 percent is my own choice and 60 percent is I eat what they eat,”he says. “When
I’m on the go, I will stop and get fast food.

The transition to college life – which Kellogg will make next year – is another challenge.
Ajanta Raman, 18, a freshman at William Jewell College in Missouri, describes how she now
substitutes breakfast bars for her morning meal and eats protein bars at lunchtime, when she
has two classes. But, she says, she has succeeded in taking the eating lessons learned at home
with her to college.

“ Mom always said to stay away from all the Honey Buns and the really sugary stuff,” Raman
said. “ If it weren’t for her, I’d probably be eating a lot more of these sweets and calories.”

Other teens report sticking to healthy diets because they – ang their peers – want to stay
inshape. That’s the case for Samantha Boddy, 13, of Sarasota, Fla., who loves dancing. She
starts out with a smoothie in the morning and eats apples and whole-grain snack bars
throughout the day.  

“I’ve always eaten really healthy,” saidBoddy, attributing that both to her mom and to the
influence dance has had on her. If fellow students see a dancer eating a potato chip, she
explains, “they”ll freak out and say, “ Do you know what that’s doing to your body right
now, as we’re speaking?”